Kumpulan Cerita Horor Di Dunia Nyata Dan Dunia lain.

Agenreferralpoker | Kumpulan daftar nama agen judi domino poker online terpercaya

Jumat, 22 September 2017



Pada saat sore itu Rudi bersama mertua dan kedua rekannya bermaksud memancing ikan Baung di sebuah sungai yang cukup besar, yang berada di pinggir sebuah desa di Kotabumi, Lampung Utara. Mereka berempat berangkat dari rumah mengendarai 2 buah motor berboncengan dan lokasi memancing ikan itu cukup jauh dari desa dan agak masuk kepedalaman. Sehingga motor hanya bisa parkir sampai ke sebuah gubuk ditepi ladang, milik salah seorang petani. Motor lalu dititipkan kepada seorang lelaki tua paruh baya yang berpakaian lusuh.

Mereka berempat sebenarnya belum pernah memancing ke daerah tersebut, namun mereka tahu lokasinya atas petunjuk teman mereka yang pernah memancing disana. Mereka bertanya kepada lelaki tua itu lokasi yang tepat untuk memancing ikan Baung, lalu pria ramah tersebut memberi tahu ancar-ancar lokasi sungai yang biasa dipakai orang memancing. Menurutnya, mereka harus berjalan ke arah Barat dengan menyusuri jalan setapak yang berjarak sekitar 3 km. Patokannya adalah sebuah pohon beringin tua, tidak jauh dari sana akan ditemui sebuah sungai yang cukup besar.
Cerita Horor - Memancing Ikan di Tempat Angker
Cerita Horor - Memancing Ikan di Tempat Angker
Mereka berempat berangkat menuju sungai dengan menyusuri jalan setapak yang sempit dan dipenuhi dengan rumput ilalang dan di kiri-kanan jalan masih banyak ditemui hutan yang cukup lebat, sesekali melewati beberapa ladang penduduk. Sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya mereka menemukan pohon beringin tua yang cukup besar, kemudian tidak jauh dari pohon beringin tersebut terdapat sungai yang cukup luas dan dalam. Air sungai berwarna kecoklatan mengalir dengan tenang dan beberapa pohon bambu yang cukup lebat menghiasai pinggiran sungai tersebut. Mereka kemudian menyisir tepi sungai sambil mencari lokasi yang tepat untuk memancing dan pada saat mereka tiba hari sudah menjelang Maghrib.

Rudi, mertua dan kedua rekannya mengambil posisi memancing dengan posisi berlainan, jarak diantara mereka kira-kira 30 m.  Diantara mereka tidak saling terlihat karena dihalangi oleh semak belukar dan pohon bambu yang rindang.

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Lampung, kalau memancing ikan Baung menggunakan umpan kucur, yang terbuat dari ikan dan daging busuk yang dicampur kapuk. Rudi tidak menyia-nyiakan waktunya untuk segera memacang umpan kucur di mata pancingnya, kemudian perburuan ikan Baung pun segera dimulai.

Sudah 1 jam berlalu, langit pun sudah berubah menjadi gela, namun cahaya rembulan di malam itu cukup membantu membuat suasana menjadi remang-remang. Anehnya, sampai saat ini tidak satupun ikan Baung diperoleh Rudi, Lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan bergerak menuju tempat memancing temannya yang terdekat. Didapati temannya sudah mendapat dua ekor ikan Baung yang cukup besar, kemudian tidak tahu karena solidaritas atau ingin memiliki privasi sendiri, rekannya itu justru berpindah memancing ketempat lain. Tentunya Rudi tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini, kemudian posisi rekannya digantikan oleh Rudi. Dalam hati dia berpikir, pasti akan mendapat ikan Baung seperti temannya tadi.

Kembali Rudi menyiapkan umpan kucur dan melemparkan mata pancingnya ke arah sungai, dibawah pohon bambu hutan yang sangat lebat. Tiba-tiba tali senarnya bergerak lincah kesana kemari, pasti ikan Baung yang besar sudah memakan umpannya, pikir Rudi. Pergumulan pun segera dimulai dan Rudi segera memainkan keahliannya menarik dan mengulur senarnya sedemikian rupa agar ikan Baung tangkapannya tidak lepas begitu saja. Beberapa detik kemudian pancingnya tersentak keras dan Rudi merasa mata pancingnya terlepas, karena tarikannya menjadi enteng sekali.

Segera digulungnya senar pancingnya untuk memastikan apa yang terjadi, Ketika ujung senar muncul ke permukaan air, ternyata mata pancingnya tidak putus, bahkan umpan dan timah pemberat pancing pun masih terpasang rapi. Alhamdulillah, hati Rudi tidak terlalu kecewa karena tidak perlu mengganti mata pancingnya. Namun dia mulai merasa aneh dengan kejadian ini.

Mata pancing kembali dilemparkan ke dalam sungai dan tidak lama kemudian, kembali senarnya mengencang, kali ini Rudi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan dalam memainkan pancingnya. Dengan berbagai teknik dan pengalaman yang dimilikinya dia berusaha mengalahkan Ikan Baung yang sedang memakan umpannya. Pergumulan kembali terjadi dengan sengit, tarik menarik antara Ikan dan Rudi berlangsung beberapa menit lamanya. Sayangnya, kejadian pertama tadi terulang kembali, kemudian tiba-tiba dia merasa ikan itu menyentak pancingnya dengan keras dan beberapa detik kemudian tarikannya terasa ringan sekali, pertanda mata pancingnya terlepas dibawa ikan.

Kembali kekecewaan Rudi terobati karena mata pancingnya ternyata masih utuh, seperti tidak terjadi apa-apa dan tentu saja Rudi semakin heran, seharusnya mata pancingnya putus karena tarikan ikan Baung tadi keras sekali. Tetapi dia masih penasaran dan kembali melempar mata pancingnya ke tengah sungai.

Baru juga masuk beberapa detik ke dalam sungai, umpan kucur di mata pancingnya terasa ada yang memakannya dan kejadian seperti sebelumnya kembali terjadi. Pergumulan antara Rudi dan ikan lebih seru dari sebelumnya, yang saling tarik menarik berlangsung lama dan cukup menguras tenaga. Akhirnya kembali lagi Rudi dikalahkan oleh ikan misterius tersebut dan dia merasa mata pancingnya kali ini pasti benar-benar putus, karena tarikan senarnya sudah langsung mengendur. Tetapi ketika sampai ke permukaan air, mata pancing dan timah pemberatnya masih terpasang rapi, kecuali umpan kucur yang sudah tidak ada.

Mungkin karena kesal sudah mengalami kejadian ini selama tiga kali, kesabaran tukang ojek yang merangkap sebagai guru ngaji ini pun mulai hilang. Sumpah serapah keluar dari mulutnya. Dasar ikan sialan ! Kalau mau makan umpan ya makan saja, jangan main-main. Kalau kamu setan, muncul saja sekalian, teriak Rudi dengan kesal, setengah menantang.

Sambil duduk bersila, Rudi memegang mata pancingnya dan bermaksud memasang kucur yang ada disisi kanannya, sambil menyalakan batere kecil sebagai penerangannya. Ketika kepalanya menoleh ke kanan, alangkah terkejutnya karena disampingnya ada seorang nenek-nenek sedang jongkok. Berpakaian kebaya zaman dulu dengan kedua bola matanya yang panjang melotot dan wajah berantakan dipenuhi benjolan-benjolan seperti orang terkena penyakit kusta. Sontak semua bulu kuduk dan semua rambut yang dimiliki Rudi berdiri tegak seperti landak.

Beberapa detik lamanya badan Rudi tidak bisa bergerak dan saling pandang dengan hantu wewe gombel yang ada dihadapannya. Masih beruntung, dalam kondisi takut yang luar biasa, dia teringat nasihat almarhum ayahnya. Beliau pernah bercerita kalau ketemu dengan hantu, hujamkan pisau atau benda tajam lainnya ke bumi, maka hantu itu pasti akan hilang. Dengan sisa kekuatan yang masih tersisa, secara repleks Rudi mengambil pisau belati yang tersimpan dari balik bajunya dan menghujamkannya ke bumi sambil mengucapkan sumpah serapah. Sontak saja wewe gombel itu tiba-tiba menghilang dari pandangannya.

Kemudian Rudi segera berdiri dan berteriak minta tolong sambil memanggil mertuanya. “Toolooong …a..a..baaah !”

Beberapa kali Rudi berteriak, tetapi anehnya, suara dari mulutnya seakan-akan terganjal di tenggorokan, kemudian dia merasa sudah berteriak sekeras-kerasnya, namun hasilnya justru nihil, tidak terdengar suara sedikitk pun dari mulutnya.

Dengan sisa kekuatan yang ada, Rudi berusaha berjalan sambil mulutnya terus berteriak, tetapi langkahnya terasa berat sekali. Satu langkah itu terasa seperti membawa beban yang sangat berat, tetapi dia terus berjuang sambil berteriak dan membaca ayat suci Al-Qur’an dalam hati. Baru pada langkah ke tujuh kakinya terasa ringan dan tiba-tiba teriakannya menjadi normal dan kencang sekali.

Sayup-sayup terdengar jawaban diujung sungai, kemudian Rudi segera bergerak cepat mencari rekan-rekannya, namun mereka tidak ditemukan. Rudi terus menyusuri tepi sungai dengan cepat dan akhirnya setelah bergerak beberapa menit mereka ditemukan. Ternyata rekan-rekannya berada cukup jauh darinya, sekitar 1 km dari lokasi kejadian.

Mereka berempat sepakat untuk menghentikan kegiatan memancingnya dan kembali ke gubuk petani, kemudian sesampainya disana Rudi menceritakan kejadian yang dialaminya ke pak tua. Petani itu kemudian menjelaskan kalau tempat tersebut memang angker dan Rudi bukan orang pertama yang mengalami hal serupa. Beberapa pemancing pun pernah mengalaminya dan ternyata menurut pak tua, tidak jauh dari lokasi kejadian terdapat makam tua yang tidak terurus. Mungkin penghuni alam gaib yang ada disana merasa terganggu dan marah dengan kehadiran mereka sehingga menakut-nakuti mereka.

Sejak saat itu Rudi tidak berani lagi memancing ikan Baung ke daerah tersebut dan kejadian itu menjadi pelajaran berharga baginya sampai sekarang.
Asalqq Situs poker online, Kumpulan Situs Domino, Situs Poker Indonesia, poker online, domino online, agen domino qq, adu q, bandar sakong, sakong online

September 22, 2017   Posted by minie lestari in , with No comments

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search